Jalan Kyai Tapa selalu disebut berkaitan dengan keributan di sekitar  soal pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras oleh Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.  Siapakah Kyai Tapa yang dijadikan nama jalan yang begitu dekat menuju pusat kekuasaan ini?
Orang terutama dari Jawa Tengah bisa saja mengira Kyai Tapa berkaitan dengan kata “pertapa”. Tetapi ternyata bukan. Kyai Tapa berasal dari Mustafa;  Kyai Tapa diketahui juga seorang keturunan Tionghoa, dengan nama  Thung Siang Toh; saudara seayah dengan Sultan Banten,  Zainul Ariffin (1733-1748).  Kyai Tapa, seorang guru agama  adalah tokoh penting dalam pemberontakan Banten di abad ke-18 bersama dengan Ratu Bagus Buang, keponakan Sultan Zainul Arifin.
Pemberontakannya yang mula-mula ditujukan pada Ratu Sarifa Fatimah yang dengan dukungan Gubernur Jendral VOC, Baron Van Imhoff, menyingkirkan Sultan yang juga suaminya sendiri  Zainul Arifin (meninggal dalam pembuangan di Ambon) dan sebelumnya juga berhasil menyingkirkan Pangeran Gusti, putera mahkota ke Ceylon,  justru semakin membesar dan mulai mengarah pada Pusat Kekuasaan VOC di Batavia.
Namun begitu Van Imhoff meninggal, Gubernur Jendral penggantinya, Mossel, bertindak sebaliknya yaitu untuk meredam pemberontakan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang, Ratu Sarifa yang telah menjadi wali sultan untuk putera mahkota baru: Syarif Abdullah, yang tak lain adalah keponakan sendiri pun ditangkap.  Bagi Mossel, Ratu Sarifa yang tidak mempunyai darah Dinasti Banten adalah biang kekacauan Banten karena berambisi  hendak mengambil alih Kasultanan Banten. Ratu Sarifa pun hendak dibuang ke Saparua tapi meninggal dalam penahanan di Pulau Edam, Kepulauan Seribu. Lantas dimakamkan juga di Pulau Edam.
Takhta Kasultanan pun dikembalikan pada putra mahkota, Pangeran Gusti.  Untuk sementara sambil menunggu kembalinya putra mahkota dari pembuanga, diangkatlah adik Sultan Zainul Arifin, yaitu Pangeran Arya Adi Santika sebagai Wali Sultan.  Dukungan terhadap Arya Santika ini disertai dengan perjanjian bahwa Lampung diserahkan pada VOC.
Tetapi pemberontakan Kyai Tapa melawan penjajahan VOC terus berlanjut malahan mengangkat Ratu Bagus Buang sebagai Sultan. Akhirnya pemberontakan Kyai Tapa pun bisa diredam dengan kekerasan. Pada tahun 1753, Banten pun aman terkendali. Pangeran Arya Santika turun takhta dan menyerahkan kekuasaan Banten pada putra mahkota, Pangeran Gusti,  yang kemudian dikenal sebagai Sultan Zainul Asyikin.
Kekalahan Kyai Tapa dan Penobatan Pangeran Gusti sebagai  Sultan Zainul Asyikin (1753-1777) menandai berakhirnya kemerdekaan politik Banten dan berkuasanya sepenuhnya Perkumpulan Dagang VOC, (Verenigde Oost Indische Compagnie- Persatuan Perkongsian Dagang Hindia Timur) atas Banten. Kasultanan Banten sebagaimana kita ketahui  akhirnya dihapuskan pada tahun 1808 oleh Gubernur Jendral Daendels setelah terlebih dahulu kratonnya dihancurkan. Datangnya Inggris tidak mengembalikan Kasultanan Banten. Justru penjajah Inggris mengukuhkan berakhirnya Kesultanan Banten.  Pada  tahun 1813,  Raffles sebagai Gubernur Jendral mewakili Pemerintahan kolonial Inggris melucuti  Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dan memaksanya turun takhta.
Bagaimana dengan Kyai Tapa, tokoh kita kali ini? Setelah pertempuran penghabisan di Banten menghadapi gempuran VOC pada September 1751, Kyai Tapa berhasil menyelamatkan diri dan terus  melakukan pertempuran sporadis di sekitar Selat Sunda, Bandung dan Bogor. Perlawanan terhadap penjajah VOC membawa dirinya  terlibat dalam konflik Mataram. Pasca Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kyai Tapa pun  menghilang.
AJ Susmana

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/pemberontakan-kyai-tapa/#ixzz4EFTcucaE 

#surgadihatiku 

Advertisements