Kekuatan maaf bagi seseorang, mungkin memiliki dampak yang berbeda-beda, dengan intensitas memberikan maaf yang berbeda-beda pula. Hingga kini saya meyakini, “the power of maaf” ini selalu mampu menciptakan “keajaiban-keajaiban” dalam hidup seseorang.

Beruntungnya, kekuatan maaf ini bisa dicoba oleh siapapun, dengan hanya satu syarat: masih memiliki stok maaf dalam dirinya. Baik untuk meminta maaf, atau untuk memberikan maaf.

Masih terngiang dalam ingatan saya, siang itu di sebuah ruang pelatihan yang diampu oleh seorang psikolog, suasananya menjadi hening. Para peserta diminta memejamkan mata. Maka, keheningan itu semakin mencekam, gelap pekat bagi masing-masing individu.

Semua orang diminta melakukan perjalanan virtual ke masa lalu. Mencari residu sakit hati, dendam kesumat, ataupun kejadian traumatis terkait hubungannya dengan sesama manusia di masa lalu, entah dengan anggota keluarga, teman, orang dekat, atau orang lain.

Setelah residu sakit hati itu ketemu, maka setiap orang diminta memaafkan mereka yang telah menyakiti kita. Sebesar apa pun kesalahan yang telah diperbuat oleh orang itu, kita harus rela memaafkannya.

Ibarat gim atau permainan, target perburuan perjalanan virtual itu adalah mencari luka-luka batin akibat hubungan buruk yang belum termaafkan. Cari induknya, dan untuk menghancurkan residu itu maka tembakkanlah seratus maaf, jika kurang seribu, bahkan selaksa, jika perlu sejuta maaf yang kita miliki.

Terasa berat dan sakit, namun saat residu itu rontok, maka jiwa ini seolah ringan, terbang melayang, seolah lahir menjadi manusia tanpa beban, kembali ke fitrah manusia yang memang penuh maaf.

Instruktur pun memberi aba-aba agar peserta mengakhiri perjalanan virtual hari itu. Peserta pun diminta membuka mata kembali.

Tiba-tiba….”bruk…”, terdengar teman di sebelah saya terjatuh dari duduknya. Tubuhnya lunglai, lemas, dan air mata tampak meleleh. Dia jatuh pingsan. Instruktur pun segera membangunkannya.

Beberapa saat kemudian, teman tersebut bangun. Sesenggukan dan linangan air mata seolah mengatakan semua yang terjadi. Semua peserta diam, tak ada yang mencoba berani bertanya apa yang sedang terjadi.

“Sakit…, Mir,” katanya kepada saya usai meminum segelas air yang diberikan instruktur. “Kesalahan dia sebenarnya sudah saya lupakan. Tapi belum pernah benar-benar saya maafkan, sekarang saya sudah memaafkannya. Proses memaafkannya itu yang sakit, tapi setelah itu rasanya lega,” katanya.

Untuk alasan kasus seperti inilah, instruktur tak membolehkan peserta mencoba cara itu sendirian di rumah. Harus ada pendamping. Kedengarannya sepele, tapi dendam kesumat dan luka batin adalah “racun” atau energi negatif yang bisa menggerogoti jiwa seseorang.

Jika seseorang telah mampu memaafkan kesalahan orang lain yang dianggap sebagai kesalahan terbesar yang pernah dilakukan pada diri kita, maka kesalahan-kesalahan kecil lainnya sudah tentu mudah untuk dimaafkan.

Orang-orang yang telah memaafkan masa lalunya, mampu berdamai dengan keadaan masa lalu, lebih ringan menghadapi masa depan sesulit apapun. Orang-orang yang ringan memaafkan, jiwanya lebih sehat, mudah lepas dari rongrongan sakit hati.

Kata-kata maaf, entah meminta maaf atau memberikan maaf, ternyata berkhasiat seperi terapi pada diri kita sendiri. Istilahnya, auto-healing, yang bisa menyembuhkan diri sendiri.

Luka batin masa lalu, entah karena disakiti “mantan”, disakiti musuh, dikhianati orang kepercayaan, difitnah rekan kerja atau orang terkasih, atau karena cekcok dengan keluarga, tak semestinya dibawa lari sepanjang hidup. Luka itu harus dibasuh, dibalut, hingga akhirnya kering dan sembuh.

Obat apa yang bisa membasuh dan menyembuhkan luka seperti itu? Tak ada obat kedokteran dan tak ada ahli kedokteran yang mampu menanganinya. Hanya kekuatan maaf pada diri kita masing-masing yang bisa melakukannya.

Saatnya memaafkan

“The power of maaf” ini memang tiada tara. Orang-orang pemaaf cenderung memiliki kesehatan jiwa yang powerfull. Nah, Anda ingin mencoba kekuatan maaf itu?

Inilah hari yang tepat untuk Anda coba. Idul Fitri telah tiba. Inilah hari kemenangan bagi umat Islam yang satu bulan penuh telah berhasil menunaikan puasa. Supaya lebih jelas, kekuatan maaf tak hanya bisa dilakukan pada saat Idul Fitri, bisa dilakukan kapan pun saat kita perlu memberikan maaf.

Banyak orang meremehkan kata maaf, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di saat hari raya Idul Fitri. Karena persoalan ingin menyampaikan maaf secara langsung inilah, salah satunya, menjadi salah satu alasan mengapa ribuan hingga jutaan orang rela berjubel-jubel di antara kemacetan “sadis”, seperti yang terjadi di tol Pejagan-Brebes Timur dan di Pantura.

Mereka bukan sekadar bepergian atau sekadar menjalani rutinitas pulang kampung.

Perjalanan mereka adalah upaya menghantarkan selaksa dan bahkan sejuta maaf kepada orangtua, orang yang dituakan, dan juga sanak saudara di kampung. Bagi sebagian orang Indonesia, terutama orang Jawa, berkumpul dengan sanak saudara di kampung merupakan momentum langka, setahun sekali dan bahkan bisa bertahun-tahun terjadi sekali.

Satu hal lagi, sebagian orangtua Jawa di kampung (sekali lagi sebagian, sebagian yang saya ketahui), terutama dari generasi baby boomers (lahir sekitar 1946-1964) atau sebelumnya, hingga generasi X awal (lahir sekitar 1965-1980), memiliki keterbatasan ekspresi lisan untuk meminta maaf. Orang-orang yang satu keluarga di kampung, cenderung jarang menggunakan ekspresi dengan kata-kata formal meminta maaf.

Tak hanya soal maaf, banyak pula yang memiliki keterbatasan ekspresi lisan untuk mengatakan cinta pada pasangannya (suami atau istri), atau kepada orangtua, atau kepada anak-anak dan cucu-cicitnya. Keluarga saya di kampung termasuk tipe seperti itu. Aneh? Jangan heran, sepertinya ini warisan orangtua generasi tua di kampung kami.

Amat sulit untuk bisa mendengar kata-kata seorang ibu yang menyatakan sayang atau cinta kepada anak-anaknya. Yang justru sering terdengar adalah “maki-makian” orangtua pada anak-anaknya.

“Enggak usah pulang Lebaran juga enggak apa-apa, beneran ayamnya utuh,” itu contoh salah satu basa-basi “sadis” yang umum keluar dari orangtua kepada anaknya.

Namun, pada akhirnya, saya tahu kalau basa-basi “sadis” itu adalah ungkapan sayang dan cinta tak ternilai harganya kepada anak-anaknya. Seorang ibu yang galak, bisa sesenggukan di pojok rumah ketika tahu anaknya tak bisa pulang mudik. Terasa tak lengkap jika ada salah satu anaknya yang tak bisa pulang.

Jika sudah berkumpul sekeluarga, tiba-tiba, biasanya, air mata berlelehan saat sungkeman di hari nan fitri. Hanya saat itulah, mereka yang tak pernah sempat mengatakan ekspresi lisan cintanya dan maafnya kepada sanak saudaranya, hari itu secara lisan menyampaikannya secara ikhlas. Maaf dan cinta berbalut satu di hari nan fitri. Syahdu.

Akhirnya, mudik bukanlah ritual tahunan semata. Mudik itu pulang. Pulang menemui keluarga tercinta, pulang merawat cinta yang tak terkata-katakan, menjalin tali persaudaraan, menjumpai masa lalu, berdamai dengan keadaan, pulang membasuh luka batin, serta pulang untuk meminta maaf dan memaafkan mereka yang telah menyakiti kita.

Pada akhirnya, jika kita berlapang dada untuk meminta maaf atau memaafkan, inilah momentum pulang menjemput energi berlimpah dari kekuatan maaf. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri kita sendiri pula.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (QS Asy-Syura: 40)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.
http://nasional.kompas.com/read/2016/07/06/08000851/.the.power.of.maaf.jangan.remehkan.kekuatan.maaf

#surgadihatiku 

Advertisements