Untuk pertamakalinya burung nuri merah dilepaskan di alam liar dan berhasil hidup bersama rekannya yang terancam punah di hutan Maya di Guatemala.


Begitu berhasilnya proyek tersebut, sehingga anak-anak dari pasangan nuri ini bahkan menambah populasi nuri sebanyak 5%.
Jika and bilang ‘nuri’ maka orang akan membayangkan burung berwarna merah (Ara macao) yang digemari dengan tiga warna utama, dengan paruh besar berwarna abu-abu.
Meskipun banyak dikenali (akibat adegan bajak laut membawa burung tersebut) kenyataannya burung nuri ini menjadi semakin jarang di dunia nyata.

Nuri merah terbagi dalam dua populasi, satu di Amerika Selatan dan lainnya di Amerika Tengah (Ara macao cyanoptera).
Kedua kelompok ini terancam punah, dan subspesies yang ditemukan di Guatemala, Meksiko, serta Belize dipercaya lebih rentan dengan hanya 300-400 ekor yang masih ada di alam liar.
Dan burung-burung ini menjadi korban dari berbagai hal mulai dari hilangnya habitat hingga perdagangan hewan secara ilegal.

Harapan
kelestarian
Namun ada seorang yang mungkin mengubahnya.
Fernando Martinez adalah seorang dokter hewan dan Direktur ARCAS, pusat perlindungan dan penyelamatan kehidupan liar.

Ia juga motor utama di belakang upaya rintisan ARCAS menangkar nuri merah yang dimulai pada tahun 1994, dengan bibit yang didapat dari hasil sitaan perdagangan gelap satwa.
Setelah 10 bekerja keras, burung hasil tangkaran pertama berhasil menetas pada tahun 2004.
Visi utama Martinez adalah untuk meningkatkan populasi nuri merah di alam liar dengan mengirimkan hasil tangkaran. Pada bulan Oktober 2015, visi ini menjadi kenyataan dengan dibebaskannya sembilan ‘lulusan’ program ini -berumur antara lima sampai 10 tahun- di Taman Nasional Sierra Lacandón di Hutan Cadangan Alam Maya do Guatemala.
Peristiwa monumental ini menandai pelepasan pertama burung hasil tangkaran di Guatemala menjadi proses yang secara cepat meningkatkan populasinya di alam liar di Gutemala meningkat sebanyak 5%.
Kepada BBC Earth, Martinez menjelaskan pentingnya momen tersebut.
“Melihat mereka kembali ke alam mereka, terbang bebas berkat kerja keras kami membuat kami merasa misi ini berjalan dengan baik. Saya dapat beristirahat dan tersenyum karena mimpi yang menjadi kenyataan, dan saya ingin melihat hal seperti ini terjadi lagi.”
Lima dari burung itu dilengkapi dengan pemancar satelit untuk memantau keberhasilannya dalam beradaptasi dengan alam liar, dan tujuh bulan kemudian, kabarnya menggembirakan karena data menunjukkan bahwa nuri merah yang dilepas terus berkembang biak dengan tingkat penyintasan atau bertahan hidup sekurangnya 60%.
Mereka yang berhasil melalui fase kritis diketahui secara rutin terbang sejauh tujuh kilometer dengan rute menuju perbatangan Meksiko sebelum kembali ke Guatemala.
Bahkan yang lebih menggembirakan adalah kabar bahwa para penyintas ini telah tergabung dengan nyaman ke dalam populasi alam liar di Taman Nasional, yang menjadi impian utama Martinez dan timnya.
Dipicu oleh keberhasilan pelepasan gelombang pertama, tim kini sibuk merencanakan pelepasan kedua.
Dengan anggapan bahwa tersedia dana untuk melengkapi burung-burung dengan alat pemancar, maka sekitar 10 burung lagi akan dilepaskan pada bulan September tahun ini untuk mengembalikan warna-warni ke angkasa Amerika Tengah.
Anda bisa mengikuti artikel ini dalam bahasa Inggris di Parrots return to paradise dan artikel sejenis di BBC Earth.
http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/06/160529_vert_earth_nuri

#surgadihatiku 

Advertisements