Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Mazmur 136:4)

image

Ia tunanetra dan bekerja sebagai pemijat. Semasa hidupnya ia sering berucap, “Tuhan itu baik.” Saya bertanya, “Bagaimanakah pengalaman Bapak tentang kebaikan Tuhan?” Ia bercerita pernah terhindar dari kemacetan panjang dalam perjalanan pulang dari luar kota ketika terjadi tanah longsor. Entah bagaimana, saya merasa kecewa. Saya ingin mendengarkan cerita yang lebih luar biasa. Saya menantikan ia bercerita tentang penghayatannya akan kasih Tuhan, yang membuatnya mampu menjalani kehidupan yang sulit. Kemudian saya membayangkan, jika saya berada dalam posisinya, saya pun tak akan mudah mengucap syukur.

Ya, apakah sebenarnya yang patut kita syukuri di tengah pahitnya kehidupan? Dalam Mazmur 136, pemazmur mengajak umat Israel bersyukur untuk tiga hal utama. Pertama, karena Tuhan mencipta alam semesta dengan kebijaksanaan-Nya (ay. 5-9). Kedua, Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di Mesir dengan cara yang dahsyat dan melepaskan mereka dari lawan-lawan mereka (ay. 10-24). Dia melakukan-Nya karena berbelaskasihan kepada umat-Nya yang sebenarnya tidak layak dikasihi (ay. 23). Ketiga, Tuhan melakukan kebaikan dengan memberi makanan kepada segenap makhluk (ay. 25).

Andaikan kita mengikuti ajakan pemazmur, niscaya kita tidak akan pernah kehabisan alasan untuk bersyukur. Kita bersyukur atas alam semesta yang Tuhan ciptakan. Kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita dari belenggu dosa dan menganugerahkan hidup yang kekal. Tuhan pun memelihara hidup kita dengan kasihNya. –Heman Elia/Renungan Harian

MARILAH KITA MEMUJI-NYA SENANTIASA
KARENA DIA BAIK DAN SETIA.

http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160621

#surgadihatiku

Advertisements