image

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:19)

Beruntung benar nasib Martunis. Anak kecil penyintas bencana tsunami Aceh 2004 itu tertangkap kamera sedang mengenakan kaos bola timnas idolanya, Portugal, dengan nama punggung tertulis Christiano Ronaldo. Melihat foto berlatar Aceh yang porak poranda, tergeraklah hati CR-7 untuk menemuinya. Sang idola juga mengangkat Martunis sebagai anak. Sebelas tahun berselang, saat berumur 17 tahun, Martunis diterbangkan ke Portugal untuk mewujudkan mimpinya. Ia resmi bergabung dengan klub Sporting Lisbon. Presiden klub, Bruno de Carvalho, berjanji mendukung Martunis mengembangkan potensinya.

Manusia saja bisa memperhatikan nasib penggemarnya, bahkan sampai mau membantu mewujudkan mimpinya–apalagi Allah! Allah bertindak lebih jauh dari itu: Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita sebelum kita mengasihi Dia. Bukankah sudah sepatutnya jika kita menyambut cinta kasih Allah yang begitu besar itu dengan mengutamakan Dia dalam kehidupan kita. Sebagai ungkapan rasa syukur, kita menjadikan Dia sebagai pribadi yang paling penting dalam hidup kita, menjadi prioritas utama dalam hati kita. Bukan hanya mengagumi kebaikan-Nya, kita juga secara aktif melakukan segala kehendak-Nya. Kita berjalan dalam terang, tidak menyimpang dari firman-Nya, dan senantiasa melandaskan setiap perbuatan kita pada kasih dan kebenaran-Nya.

Bukankah pola hidup mengutamakan Allah semacam ini akan membuat kasih kita sempurna? Kita berjalan dalam terang-Nya, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. –Gigih Dwiananto/Renungan Harian

MENGUTAMAKAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN KITA
MENUNTUN KITA DALAM TERANG KASIH-NYA.

http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20160623

#surgadihatiku

Advertisements