Sore itu saya sengaja memutarkan film ‘Frozen’ produksi Walt Disney kepada anak-anak di rumah.  Seperti biasa, lihai-nya animasi berliuk dalam gambar, seni dan musik orkestra membuat anak-anak terfokus pada film.  Sengaja film ini diputar di rumah dengan didampingi orang tua agar dapat memberikan edukasi kasih, perduli kepada sesama terkhusus kakak dan adik dalam keluarga.  Jadi sembari menikmati hiburan juga ditanamkan unsur-unsur edukasi oleh orang tua.

Frozen yang dikeluarkan akhir november 2013 oleh Walt Disney Amerika Serikat ini berakar dari cerita karangan Hans Christian Anderson berjudul The Snow Queen.  Intinya sederhana, mengenai keperdulian dan kasih dari adik kakak yang bernama Anna dan Elsa. Kunci dari kemampuan mengontrol kekuasaan dan pemulihan adalah kasih.

  Malamnya, anak pertama kami begitu gelisah dan ketakutan sebelum tidur.  ‘Kenapa Jonas?’ Tanya saya, dan ia menjawab ‘Hiii’ saya takut kalau papa dan mama meninggal dipanggil Tuhan.’ Rupanya adegan di babak awal mengetengahkan ayah dan ibu dari Anna dan Elsa meninggal dalam perjalanan di tengah lautan ganas.  Sembari setengah sadar dan ngantuk luar biasa, saya berusaha untuk gunakan kesempatan ini menjelaskan sebaik mungkin mengenai kematian dan perpisahan sesuai dengan umurnya dan tidak lupa pelukan sebagaibasic need of life-nya.

Kematian adalah perpisahan yang tidak pernah diinginkan dan diharapkan apalagi diundang oleh kita diantara orang-orang yang kita kasihi, namun sekaligus kematian adalah sebuah jeda seperti tanda koma dalam tulisan.  Kematian adalah sebuah jedah ‘sejenak’ untuk kekekalan, ada yang menuju ke surga dan ada pula yang menuju ke neraka tanpa pertobatan, percaya dan mengikut Yesus Kristus dengan sungguh.

Nikodemus seorang pandai, pemuka agama yang disebut Farisi mendatangi Yesus dan menadapatkan sebuah percakapan melampaui kasat mata, yakni surga.  Realitas surga tidak akan dijumpai oleh orang yang belum percaya dan mengundang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Manusia pada umumnya lebih menyukai ‘kegelapan’ hidup dari pada mempercayai Kristus sebagai keputusan untuk datang kepada ‘Terang’. 

Pembicaraan belasan menit malam itu bersama anak saya diusahakan jauh sesederhana mungkin dengan mengingatkan realitas sesungguhnya bahwa Tuhan Yesus tidak tinggal diam namun perduli, bahwa orang tua-pun juga perduli dan sayang anak-anak-nya. Kematian, perpisahan adalah sejenak bagi orang yang percaya dan mengikut Yesus karena ada surga dan perpisahan dan kematian adalah selamanya sedih bila berada di Neraka.

Malam itu Jonas tertidur dalam pelukan bapaknya, sembari menyerap konsep surga dan neraka dalam sistematis teologi yang sangat sederhana.  Sebuah tujuan pasti, nyata dan kekal bagi setiap orang yang merindukan keluarganya tetap bersama selamanya.  Sebuah pintu ajaib kasih yang telah dibukakan oleh pencipta manusia kepada setiap kita yang membaca, mengetahui, hidup dan dengar:Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya kepada Yesus Kristus tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal di surga kelak‘ (Terjemahan Bebas Yohanes 3:16).

Source : jeffrysudirgo.blogspot.jp 

#surgadihatiku

Advertisements