ā€‹

Peran utama orangtua dalam proses pengembangan minat dan bakat anak adalah memaparkan, memfasilitasi, dan mengapresiasi. Secara sederhana, peran utama orangtua adalah menyediakan lingkungan dan lahan yang subur untuk pertumbuhan minat & bakat anak.

Memaparkan pada keragaman dunia

Karena jangkauan anak masih pendek, maka tugas orangtua adalah memaparkan anak dengan aneka jenis pengalaman. Tujuannya adalah memperluas wawasan anak dan membuka pintu-pintu ketertarikannya agar tidak terbatas hanya pada hal-hal yang ada di rumahnya saja. Perjalanan (travelling) ke berbagai kota adalah salah satu jenis kegiatan yang bisa digunakan untuk menstimulasi dan memaparkan anak dengan aneka hal yang ada di dunia, tidak terbatas pada mata pelajaran seperti yang diajarkan di bangku sekolah.

Saat memaparkan, kita tidak pernah tahu apa yang menarik dan akan berkesan pada anak hingga dewasa. Jadi, tugas kita adalah memaparkan dan memaparkan. Ini seperti kisah Einstein masa keci yg disebut Howard Gartner crystallizing experiences, pengalaman yang menggerakkan.

Alkisah, saat usia 4 tahun Einstein mendapat hadiah kompas dari ayahnya. Ternyata kompas itu sangat berkesan bagi Einstein dan membawa pengaruh besar dalam ketertarikannya pada dunia sains.

Memfasilitasi Minat Anak

Jika anak sudah menunjukkan minat pada hal tertentu, peran orangtua adalah memfasilitasinya. Minat itu bisa dilihat dari tanda-tanda:

  • sering dibicarakan/dilakukan
  • anak menikmati prosesnya
  • anak bertumbuh kemampuannya

Saat memfasilitasi, tantangan terbesar orangtua adalah mencari titik temu antara minat anak dan kemampuan sumber daya orangtua. Dalam keterbatasan kondisi orangtua, di sinilah kebutuhan akan kreativitas untuk mencari jalan, alternatif, dan substitusi.

Mengapresiasi Kegiatan Anak

Sebuah hal yang ditekuni dan dikerjakan anak sepatutnya mendapat apresiasi. Jika hasilnya belum bagus dalam kacamata orangtua, setidaknya orangtua dapat memberikan apresiasi untuk inisiatif, kerja keras, ide, kreativitas, atau perhatian yang diberikan anak. Jangan orangtua malah langsung mengkritik, merendahkan, atau mematikan inisiatif anak.

Apresiasi adalah ibarat pupuk yang menyuburkan tanah. Dia bermanfaat, tapi juga perlu dijaga agar tidak berlebihan karena segala yang berlebihan pasti berdampak buruk.

Yang penting diperhatikan dalam proses apresiasi adalah tujuannya untuk memberikan kenyamanan pada anak atas inisiatif dan hal yang dilakukan. Anak didorong untuk mandiri dan berlatih mengambil keputusan sendiri. Kesalahan terjadi pada apresiasi jika apresiasi itu sampai menimbulkan ketergantungan anak pada persetujuan dan pujian orangtua.

 

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Selain memaparkan anak dengan aneka hal dan kegiatan pada anak, apa yang bisa dilakukan pada hal-hal yang sudah menjadi ketertarikan anak, misalnya: robot, tokoh kartun, game, dan sebagainya?

Setidaknya ada 4 hal yang bisa dilakukan orangtua:

Mengubah konsumsi ke produksi

Minat anak biasanya terkait dengan kegiatan mengkonsumsi (memasukkan dari luar ke dalam), misalnya menonton, bermain, membaca, dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diubah menjadi kegiatan produksi (mengeluarkan dari diri anak), misalnya: bercerita, bernyanyi, presentasi, menulis, membuat sesuatu.

Membahaskan & memperdalam

Kegiatan yang dapat dilakukan orangtua untuk mengubah kegiatan konsumsi menjadi produksi adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk mengeluarkan informasi yang ada dalam dirinya menjadi sebuah pengetahuan. Minta anak untuk menjawab pertanyaan Anda tentang hal yang digeluti, minta anak untuk menceritakan, menuliskan, atau melakukan presentasi hal-hal yang diketahuinya. Proses itu bisa sesederhana percakapan spontan 3 menit, bisa kompleks dalam bentuk presentasi yang harus dipersiapkan sebelumnya.

Memperkaya dengan kegiatan lain

Sebuah hal yang diminati anak juga bisa diperkaya dengan menghubungkannya dengan kegiatan belajar yang lain. Sebagai contoh, minat anak pada robot dijadikan sarana belajar matematika robot, membaca tentang robot (literasi), cara kerja robot (IPA), dan sebagainya. Anda juga mengekspos anak dengan ahli melalui pertemuan langsung, karya ahli, atau video/film yang membahas tema yang disukai anak.

Bagaimana kalau minat anak berubah?

Nah, ini pertanyaan yang sering diajukan orangtua. Apalagi kalau minat anak berkaitan dengan sumber daya (dana & waktu) yang harus dialokasikan secara khusus oleh orangtua. Apakah semua minat anak harus difasilitasi?

Hal pertama yang perlu diketahui, perubahan-perubahan minat anak adalah hal yag wajar dan alami. Sebagian besar anak mengalaminya. Seiring pertambahan usia anak, biasanya variasinya akan semakin mengerucut. Jika orangtua mengamati perkembangan anak, mereka biasanya akan melihat benang merah dari hal yang berubah-ubah itu.

Yang kedua, anak secara umum bersifat adaptif. Mereka pandai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Tugas orangtua bukan memanjakan anak atau membatasi, tetapi mengkomunikasikannya kepada anak. Proses ini juga merupakan bagian dari pendidikan mengenai empati kepada anak.

Yang ketiga, perubahan minat anak dapat menjadi pintu untuk proses belajar tentang negosiasi. Orangtua dan anak belajar membuat kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan itu bisa berupa kapan boleh berganti, apa syarat berganti, apa konsekuensi dari pergantian?

Proses ini akan menguatkan anak dan mengajarkan anak tentang konsekuensi dan ketangguhan.

***

http://rumahinspirasi.com/apa-yang-perlu-diperhatikan-untuk-pengembangan-minat-bakat-anak/

#surgadihatiku

Advertisements